Beranda KALSEL Film “Dibalik Tajau” Raih Juara II, Angkat Kisah Warisan Budaya Banjar yang...

Film “Dibalik Tajau” Raih Juara II, Angkat Kisah Warisan Budaya Banjar yang Terancam Hilang

Film “Dibalik Tajau” Raih Juara II, Angkat Kisah Warisan Budaya Banjar yang Terancam Hilang
Film “Dibalik Tajau” Raih Juara II, Angkat Kisah Warisan Budaya Banjar yang Terancam Hilang

REALITANYANEWS, BANJARMASIN – Film pendek “Dibalik Tajau” produksi Kaya Films berhasil meraih Juara II Lomba Film Kebudayaan Banjar 2026 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin.

Film yang disutradarai Muhammad Randy tersebut mendapat apresiasi dari dewan juri karena dinilai mampu mengangkat kebudayaan Banjar bukan sekadar sebagai latar cerita, tetapi menjadi inti konflik yang membangun keseluruhan narasi.

Mengangkat tajau sebagai objek budaya, film ini menghadirkan potret semakin memudarnya salah satu warisan budaya masyarakat Banjar di tengah perubahan zaman dan modernisasi.

Berangkat dari Kekhawatiran Budaya Tajau Hilang

Sutradara “Dibalik Tajau”, Muhammad Randy, mengatakan ide film tersebut berawal dari keresahan tim produksi terhadap keberadaan tajau yang kini semakin sulit ditemukan.

Menurutnya, tajau dahulu memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Banjar. Benda berbahan tanah liat tersebut digunakan sebagai tempat penampungan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, seiring perkembangan zaman, fungsi tajau perlahan tergantikan oleh tandon air dan berbagai wadah berbahan plastik.

“Kami memilih mengangkat tajau karena sekarang benda ini sudah mulai langka. Dulu tajau menjadi bagian dari budaya sungai masyarakat Banjar, tetapi sekarang keberadaannya tergeser oleh perkembangan zaman. Padahal, tajau merupakan salah satu warisan budaya yang sangat erat kaitannya dengan identitas masyarakat Banjar,” ujar Randy.

Ia menjelaskan, hasil riset tim produksi menemukan fakta bahwa keberadaan pengrajin tajau di kawasan Kuin Utara, Banjarmasin, kini semakin terbatas.

Kawasan tersebut dahulu dikenal sebagai salah satu sentra pengrajin tajau. Namun, saat tim melakukan riset, hanya tersisa satu pengrajin yang masih bertahan. Pengrajin tersebut bahkan telah menghentikan produksi pada 2025 karena berbagai keterbatasan.

“Dulu ada puluhan pengrajin tajau. Saat kami melakukan riset, hanya tersisa satu orang, dan pada 2025 beliau memutuskan berhenti memproduksi tajau. Tempat produksinya bahkan sudah dijual,” ungkap Randy.
“Kami khawatir anak cucu kita nanti tidak lagi bisa melihat bagaimana proses pembuatan tajau maupun memahami fungsi dan nilai budayanya,” lanjutnya.
Proses produksi film “Dibalik Tajau” juga diwarnai berbagai tantangan. Dari banyak rumah yang didatangi, hanya sekitar empat hingga lima rumah yang masih memiliki tajau Foto Dok istimewa
Proses produksi film “Dibalik Tajau” juga diwarnai berbagai tantangan. Dari banyak rumah yang didatangi, hanya sekitar empat hingga lima rumah yang masih memiliki tajau Foto Dok istimewa

Tim Produksi Berburu Tajau hingga Lima Hari

Proses produksi film “Dibalik Tajau” juga diwarnai berbagai tantangan. Selain kendala pada tahap pra-produksi dan faktor cuaca, tim harus menghadapi kesulitan dalam mencari properti utama berupa tajau.

Setelah para pengrajin berhenti berproduksi, tim tidak lagi dapat memperoleh tajau dalam jumlah banyak dari satu tempat.

“Kami harus berburu tajau dari rumah ke rumah. Tim art department bersama seluruh kru mendatangi masyarakat di kawasan pinggiran sungai yang masih menyimpan tajau,” kata Randy.

Dari banyak rumah yang didatangi, hanya sekitar empat hingga lima rumah yang masih memiliki tajau dan bersedia meminjamkannya untuk kebutuhan syuting.

Proses pencarian properti tersebut bahkan memakan waktu sekitar tiga hingga lima hari.

“Kami benar-benar hunting keliling Kota Banjarmasin. Sekarang menemukan tajau sudah sangat sulit. Itu menjadi bukti bahwa benda budaya ini memang semakin langka,” tambahnya.
Proses produksi film juga sempat terkendala cuaca. Foto Dok Istimewa
Proses produksi film juga sempat terkendala cuaca. Foto Dok Istimewa

Cuaca Sempat Menghambat Proses Syuting

Selain kesulitan mencari properti, proses produksi film juga sempat terkendala cuaca.

Hujan yang turun di luar perkiraan membuat jadwal pengambilan gambar beberapa kali mengalami penundaan. Kondisi tersebut membuat proses produksi berlangsung lebih lama dari rencana awal.

Meski demikian, seluruh tantangan akhirnya berhasil dilewati hingga film “Dibalik Tajau” dapat diselesaikan dan mengikuti kompetisi.

“Alhamdulillah semua tantangan itu bisa kami lewati. Bahkan di awal film ini hampir tidak jadi diproduksi karena ada beberapa kendala pada tahap pra-produksi. Syukurnya semua bisa diselesaikan berkat kerja sama seluruh tim,” ujarnya.
upaya pelestarian tajau tidak dapat hanya dibebankan kepada para pengrajin. Foto Dok Istimewa
upaya pelestarian tajau tidak dapat hanya dibebankan kepada para pengrajin. Foto Dok Istimewa

Dorong Pemerintah Buka Pasar bagi Pengrajin Tajau

Randy menilai upaya pelestarian tajau tidak dapat hanya dibebankan kepada para pengrajin. Menurutnya, diperlukan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah, untuk membuka kembali pasar bagi produk tajau.

Dengan adanya pasar, para pengrajin memiliki alasan untuk kembali memproduksi dan mempertahankan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Ia menilai tajau dapat dikembangkan menjadi berbagai produk tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat di dalamnya, seperti pot tanaman hias maupun produk dekorasi.

“Kalau masih ada pasar, pengrajin pasti tetap membuat tajau. Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana pemerintah ikut membantu membuka peluang pasar, misalnya dengan mengembangkan fungsi tajau sebagai pot tanaman atau produk dekoratif lainnya. Yang penting pengrajin tetap hidup dan budaya ini tidak hilang,” jelasnya.
Setelah meraih Juara II Lomba Film Kebudayaan Banjar 2026, Kaya Films berkomitmen untuk terus memproduksi karya yang mengangkat cerita dan budaya lokal. Foto Dok Istimewa
Setelah meraih Juara II Lomba Film Kebudayaan Banjar 2026, Kaya Films berkomitmen untuk terus memproduksi karya yang mengangkat cerita dan budaya lokal. Foto Dok Istimewa

Kaya Film Bidik Kompetisi Nasional

Setelah meraih Juara II Lomba Film Kebudayaan Banjar 2026, Kaya Films berkomitmen untuk terus memproduksi karya yang mengangkat cerita dan budaya lokal.

Randy berharap karya sineas Banua mendapat dukungan lebih luas sehingga mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

“Harapan kami sederhana, terus berkarya. Mudah-mudahan suatu saat karya Kaya Film bisa bersaing di tingkat nasional. Tapi bukan hanya Kaya Films, kami ingin seluruh sineas Banua berkembang bersama sehingga perfilman Kalimantan Selatan semakin dikenal,” tuturnya.

Siapkan Film Baru dan Ajak Masyarakat Dukung Karya Sineas Banua

Selain menyiapkan proyek film pendek baru yang masih dalam tahap pengembangan, Randy juga mengajak masyarakat untuk mendukung film horor lokal “Pirunduk” yang dijadwalkan tayang di bioskop pada akhir tahun ini.

Film tersebut disebut mengangkat kebudayaan Kalimantan Selatan dengan pendekatan horor yang berbeda dari kebanyakan film Indonesia.

“Kami juga sedang menyiapkan proyek baru, masih dalam tahap pengembangan. Sementara itu, kami mengajak masyarakat untuk mendukung film horor Banua berjudul ‘Pirunduk’ yang akan tayang di bioskop seluruh Indonesia,” ujarnya.
“Film ini menghadirkan horor yang berbeda karena mengangkat kebudayaan Kalimantan Selatan. Kami berharap masyarakat ikut menonton dan mendukung karya sineas daerah,” lanjut Randy.

Keberhasilan “Dibalik Tajau” meraih Juara II tidak hanya menjadi pencapaian bagi Kaya Films, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik sebuah tajau tersimpan sejarah panjang, identitas budaya, serta perjuangan para pengrajin yang kini semakin terancam hilang.

Melalui film, Kaya Films berupaya menjaga agar kisah tentang tajau tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

BACA JUGA:

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini