
REALITANYANEWS, BANJARMASIN – Film pendek “Dibalik Tajau” produksi Kaya Film berhasil meraih Juara II dalam Lomba Film Kebudayaan Banjar 2026 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin.
Pengumuman pemenang disampaikan melalui media sosial resmi penyelenggara setelah seluruh karya dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas akademisi, sineas, sejarawan, dan pegiat seni budaya.
Film yang disutradarai Muhammad Randy dengan Suriansyah sebagai Eksekutif Produser dan Antonio Sujarwo sebagai Produser itu dinilai mampu mengangkat budaya Banjar bukan sekadar sebagai latar cerita, melainkan sebagai inti konflik yang membangun keseluruhan narasi.

Angkat Tajau sebagai Inti Cerita
Dalam catatan penilaiannya, dewan juri menyebut “Dibalik Tajau” sebagai salah satu karya yang serius dalam mengangkat tema kebudayaan.
Film tersebut dinilai berhasil menghadirkan dramaturgi yang kuat melalui objek budaya tajau, yaitu tempayan tradisional masyarakat Banjar yang keberadaannya kini semakin jarang ditemukan.
Menurut dewan juri, film ini berhasil membawa isu kebudayaan dari pinggiran menjadi pusat cerita. Fragmen kehidupan yang ditampilkan juga dinilai dekat dengan realitas masyarakat sehingga mampu membangun kepercayaan penonton terhadap dunia yang dihadirkan dalam film.
Meski demikian, dewan juri memberikan sejumlah catatan, salah satunya mengenai minimnya konteks sejarah mengenai tajau bagi penonton yang belum mengenal budaya tersebut.
Namun, keterbatasan itu justru dinilai dapat menjadi kekuatan tersendiri karena mendorong penonton untuk mencari tahu lebih jauh mengenai sejarah dan nilai budaya yang terkandung di balik tajau.
“Ketidakhadiran konteks yang utuh justru menjadi ruang dialog yang mengundang rasa ingin tahu penonton terhadap sejarah dan makna tajau,” tulis dewan juri dalam catatan penilaiannya.
Potret Perjuangan Pengrajin Tajau di Kampung Kuin
Film “Dibalik Tajau” tidak lahir dari imajinasi semata. Cerita yang diangkat merupakan potret kehidupan para pengrajin tajau di Kampung Kuin, Banjarmasin, yang hingga kini masih berjuang mempertahankan warisan leluhur di tengah perubahan zaman.
Dahulu, kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra produksi tajau terbesar di Kalimantan Selatan. Puluhan keluarga menggantungkan hidup dari pembuatan tempayan berbahan tanah liat tersebut.
Namun, kondisi itu perlahan berubah.
Masuknya wadah berbahan plastik, semakin terbatasnya lahan produksi akibat pembangunan jalan dan jembatan, serta menurunnya minat masyarakat membuat industri tajau mengalami kemunduran.
Jika sebelumnya seorang pengrajin mampu memproduksi sekitar 1.000 tajau dalam setahun, kini jumlahnya hanya berkisar 200 buah per tahun atau sekitar tujuh hingga delapan buah setiap bulan.
Dari puluhan pengrajin yang pernah aktif, kini hanya tersisa satu pengrajin yang masih bertahan meneruskan usaha keluarganya.
Proses produksi juga menghadapi tantangan karena pembuatan tajau hanya dapat dilakukan secara optimal saat musim kemarau. Ketika musim hujan tiba, proses pembakaran tanah liat menjadi lebih sulit dilakukan.
Di sisi lain, sebagian besar transaksi tajau dilakukan secara utang kepada masyarakat desa dan baru dibayar setelah musim panen. Kondisi tersebut turut memengaruhi arus kas para pengrajin.

Kaya Film Ingin Budaya Banjar Tetap Hidup
Sutradara Muhammad Randy mengatakan, sejak awal tim produksi ingin menghadirkan film yang tidak hanya mengejar estetika visual, tetapi juga menyuarakan kondisi nyata yang dialami para pelaku budaya.
“Kami mengucapkan terima kasih dan rasa syukur atas penghargaan ini. Apalagi, kami ingin penonton memahami bahwa tajau bukan sekadar benda dari tanah liat. Di baliknya ada sejarah, identitas masyarakat Banjar, sekaligus kehidupan para pengrajin yang perlahan mulai menghilang,” ujar Randy.Melalui film tersebut, ia berharap masyarakat kembali memberikan perhatian terhadap warisan budaya yang selama ini mungkin dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Menurut Randy, proses produksi dilakukan melalui riset lapangan dan wawancara langsung dengan pengrajin agar cerita yang dihadirkan memiliki kedekatan dengan realitas.
“Penghargaan ini tentu membanggakan. Namun, yang lebih penting adalah jika setelah menonton film ini masyarakat mulai bertanya, mengenal, bahkan ikut melestarikan budaya tajau,” tambahnya.
Film Jadi Jembatan Budaya untuk Generasi Muda
Eksekutif Produser Suriansyah menilai film merupakan medium yang efektif untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan budaya kepada generasi muda.
Ia mengatakan, dukungan terhadap kreativitas anak muda menjadi salah satu alasan pihaknya mengangkat kisah tajau ke dalam sebuah film.
“Kami sangat mendukung kreativitas anak muda, khususnya di Banjarmasin. Budaya tidak cukup hanya disimpan di museum atau menjadi koleksi sejarah. Budaya harus terus diceritakan dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman, salah satunya melalui film,” ujar Suriansyah.Menurutnya, kisah tajau dipilih karena keberadaannya mulai terlupakan dan membutuhkan perhatian dari generasi muda.
“Kalau bukan generasi sekarang yang mengangkat cerita-cerita lokal, siapa lagi? Film bisa menjadi jembatan agar budaya tetap hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.
Dorong Sineas Lokal Angkat Cerita Budaya Banjar
Produser Antonio Sujarwo mengatakan, keberhasilan meraih Juara II merupakan hasil kerja keras seluruh kru yang berupaya menjaga keseimbangan antara kualitas sinematik dan akurasi budaya.
“Kami bersyukur film ini mendapat apresiasi dari dewan juri. Kami juga bangga dapat mendukung kreativitas anak muda, khususnya di Banjarmasin, agar terus berkembang dan mampu menghasilkan karya-karya berkualitas,” kata Antonio.Ia menilai Kalimantan Selatan memiliki banyak cerita lokal yang belum banyak dikenal oleh publik nasional.
“Masih banyak budaya Banjar yang layak diangkat ke layar. Kami berharap semakin banyak sineas daerah berani mengangkat identitas lokal sehingga budaya kita tetap dikenal oleh generasi mendatang,” ujarnya.Antonio juga berharap generasi muda Banjarmasin terus berkembang dan tidak hanya mampu berkarya di tingkat lokal, tetapi juga dapat bersaing di kancah nasional.

Pelestarian Tajau Masih Memiliki Harapan
Di tengah berbagai tantangan, peluang untuk mempertahankan budaya tajau masih terbuka.
Permintaan tajau dari sejumlah daerah seperti Anjir, Marabahan, hingga Sungai Gampa masih tetap ada meski jumlahnya jauh berkurang dibandingkan satu dekade lalu.
Sejumlah inovasi juga mulai dilakukan, di antaranya menjadikan tajau sebagai pot tanaman hias, menambahkan motif sasirangan, hingga melibatkan institusi pendidikan dalam upaya pelestarian.
Beberapa sekolah di Banjarmasin bahkan mulai mengenalkan kembali kerajinan tajau kepada murid sebagai bagian dari pendidikan budaya.
Melalui “Dibalik Tajau”, Kaya Film tidak hanya menghadirkan sebuah karya sinema, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa di balik sebuah tempayan tanah liat tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, identitas, dan harapan.
Harapan agar salah satu warisan budaya Banjar tersebut tidak benar-benar hilang ditelan zaman.
BACA JUGA:
- Marc Cucurella Pensiun dari Timnas Spanyol Usai Juara Piala Dunia 2026
- Film “Dibalik Tajau” Raih Juara II Lomba Film Kebudayaan Banjar 2026
- Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Argentina Tak Berkutik Tanpa Satu Tembakan Tepat Sasaran
- Benjamin Netanyahu Dukung Argentina di Final Piala Dunia 2026, Tuai Sorotan dan Pro-Kontra
- Reza Arap Resmi Siarkan ASEAN Championship Hyundai Cup 2026 Lewat YouTube













