Beranda Metropolis Job Ghosting Makin Marak, 45 Persen Pencari Kerja Tak Dapat Kabar Usai...

Job Ghosting Makin Marak, 45 Persen Pencari Kerja Tak Dapat Kabar Usai Wawancara

Foto: Ilustrasi
Foto: Ilustrasi

REALITANYANEWS, INTERNASIONAL – Sudah mengikuti serangkaian wawancara kerja hingga tahap akhir, tetapi perusahaan tiba-tiba tidak lagi memberikan kabar. Situasi yang dialami banyak pencari kerja ini dikenal dengan istilah job ghosting.

Fenomena tersebut tergambar dalam laporan terbaru platform rekrutmen Greenhouse. Berdasarkan survei terhadap 1.200 pencari kerja di Amerika Serikat (AS) pada September 2026, sebanyak 45 persen responden yang telah mencapai tahap wawancara mengaku tidak lagi menerima respons dari perusahaan setelah proses tersebut.

Maraknya pengalaman tersebut mendorong seorang konsultan pemasaran berbasis kecerdasan buatan (AI) asal Toronto, Kanada, Gary Meyer (42), membuat situs bernama Did They Ghost You pada Juni 2026.

Situs tersebut menjadi wadah bagi pencari kerja untuk melaporkan perusahaan yang tiba-tiba menghentikan komunikasi selama proses rekrutmen. Hingga laporan tersebut diterbitkan, tercatat sebanyak 2.888 laporan anonim telah masuk. Situs itu juga menyusun peringkat perusahaan yang paling sering dilaporkan melakukan ghosting, termasuk sejumlah perusahaan besar yang tergabung dalam indeks saham S&P 500.

Berawal dari Keluhan Pencari Kerja

Meyer awalnya membuat situs tersebut sebagai proyek kecil setelah mendengar cerita sejumlah temannya yang tidak kunjung mendapat kabar dari perusahaan usai menjalani wawancara kerja.

Namun, respons publik ternyata jauh lebih besar dari perkiraannya. Setelah membagikan situs tersebut melalui LinkedIn, Meyer mengaku jumlah pengunjung meningkat drastis.

Dalam beberapa hari pertama, situs itu diklaim telah dikunjungi lebih dari dua juta orang. Pada puncak popularitasnya, Meyer bahkan menerima lima hingga enam laporan baru setiap menit.

"Jelas, ini menyentuh masalah yang cukup sensitif," ujar Meyer, dikutip dari CNBC Make It, Jumat (6/11/2026).

Meyer menjelaskan, situs tersebut tidak ditujukan untuk pelamar yang hanya mengirimkan lamaran tetapi tidak mendapat balasan. Menurutnya, tidak adanya respons pada tahap awal melamar pekerjaan sudah menjadi pengalaman yang umum di pasar tenaga kerja saat ini.

Laporan yang diterima lebih banyak berasal dari kandidat yang telah melewati beberapa tahapan seleksi, termasuk wawancara berulang kali, tetapi kemudian tidak mendapat kepastian dari perusahaan.

"Ini adalah orang-orang yang telah melalui beberapa putaran wawancara, bertemu banyak orang, bahkan terbang ke berbagai negara bagian atau kota untuk wawancara. Namun, tepat di tahap akhir, tidak ada apa-apa, tidak ada respons sama sekali," katanya.

Kandidat Ditinggalkan Tanpa Kepastian

Sejumlah laporan yang masuk ke situs tersebut menggambarkan pengalaman pencari kerja yang telah mendapat sinyal positif dari perusahaan, tetapi kemudian kehilangan kontak tanpa penjelasan.

Salah satu pelamar mengaku sempat diberi tahu oleh direktur sumber daya manusia (SDM) bahwa dirinya merupakan kandidat yang paling diunggulkan setelah wawancara terakhir. Namun, perusahaan tidak pernah menghubunginya kembali setelah pernyataan tersebut.

Pelamar lainnya mengaku tidak mendapat kabar mengenai hasil seleksi. Ironisnya, sepekan kemudian, ia justru menemukan perusahaan kembali mengiklankan posisi pekerjaan yang sebelumnya dilamar.

Menurut Meyer, pengalaman seperti itu dapat membuat pencari kerja menyalahkan diri sendiri dan mempertanyakan kemampuan mereka. Tidak adanya penjelasan dari perusahaan juga bisa menimbulkan anggapan bahwa kandidat telah melakukan kesalahan besar hingga tidak layak mendapatkan tanggapan, bahkan sekadar melalui email.

Fenomena job ghosting pun menunjukkan bahwa ketidakpastian dalam proses rekrutmen tidak hanya terjadi pada tahap awal pengiriman lamaran. Kandidat yang telah menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mengikuti berbagai tahapan seleksi juga dapat menghadapi situasi serupa tanpa memperoleh kejelasan mengenai hasil akhirnya.

Sumber: CNBC Indonesia

BACA JUGA:

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini