REALITANYANEWS, RIAU – Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan, Riau, kembali berada di titik kritis. Tekanan dari perambahan, kebun sawit ilegal, dan hilangnya tutupan hutan membuat kawasan konservasi ini kian rapuh. Dampaknya bukan cuma dirasakan gajah Sumatra, tetapi juga tapir, owa, hingga mamalia besar lain yang terdesak karena habitatnya makin menyempit.
Jejak kaki satwa memang masih terlihat saat patroli lapangan dilakukan, tetapi populasinya makin jarang ditemui. Fragmentasi hutan memutus jalur jelajah, sementara kerusakan berjalan jauh lebih cepat daripada upaya restorasi yang tengah dilakukan.
Kerusakan Hutan yang Semakin Meluas
Ketua Kelompok Keilmuan Ekologi SITH ITB, Prof. Dr. Tati Suryati Syamsudin, menegaskan bahwa masalah ini bukan tiba-tiba muncul. Degradasi hutan di Sumatra telah berlangsung puluhan tahun, perlahan mengubah lanskap dan memaksa satwa besar, terutama gajah, bergerak mendekati wilayah manusia.
“Selama hutan menyediakan ruang gerak dan makanan, gajah akan tetap tinggal di habitatnya. Tetapi jika pakan hilang, mereka akan mencari ke tempat lain,” kata Tati, dikutip dari situs ITB.Konektivitas antarhutan yang hilang membuat kelompok gajah mudah tersesat ke area perkebunan atau permukiman. Karena gajah hidup berkelompok, perpindahan satu individu biasanya diikuti yang lain konflik pun tak terhindarkan.
Masalah Tata Kelola Lahan
Tati menilai persoalan tata ruang dan lemahnya implementasi regulasi menjadi hambatan besar. Walaupun instrumen kebijakan sudah disiapkan, kapasitas lapangan serta kompleksitas sosial ekonomi masyarakat membuat banyak penanganan tak berjalan.
“Regulasi sudah ada, tapi belum mampu menjangkau persoalan di lapangan,” ujarnya.Masuknya perkebunan sawit memperparah kerusakan. Sebagian kebun bahkan sudah panen, sehingga penertiban semakin rumit karena menyangkut ekonomi masyarakat dan tumpang tindih perizinan.
Menurut Tati, pemulihan ekosistem butuh waktu sangat lama belasan hingga puluhan tahun. “Tidak sesederhana itu,” tegasnya.
Peringatan dari Banjir Bandang Sumatra
Kerusakan di TNTN juga berkaitan dengan risiko bencana yang meningkat. Banjir bandang yang beberapa kali terjadi di Sumatra menjadi sinyal kuat bahwa daya dukung lingkungan sudah berada di titik rawan.
“Ini momentum untuk memperkuat pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujar Tati.Ia menekankan, konservasi tak akan berhasil tanpa kolaborasi semua pihak: pemerintah, masyarakat lokal, akademisi, pengelola kawasan, dan organisasi nonpemerintah. Pendekatan berbasis manfaat langsung bagi masyarakat terbukti efektif, seperti ekowisata Tangkahan atau riset konservasi Owa Jawa oleh Rahayu Oktaviani, peraih Whitley Award 2025.
Masalah Komunikasi & Konflik Berkepanjangan
Peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Unpad, Herlina Agustin, menyebut kondisi TNTN kini “makin memburuk” karena persoalan komunikasi antar pemangku kepentingan yang tak pernah tuntas.
Menurutnya, TNTN dihuni empat kelompok: pengelola, pendatang, masyarakat asli, dan industri. Ketika kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional, kelompok-kelompok tersebut tidak dipindahkan dan inilah sumber masalah berlapis.
“Kalau mau dikeluarkan, masyarakat siap. Tapi dipindahkan ke mana? Itu tugas pemerintah,” kata Herlina.Ia juga menyoroti tumpang tindih perizinan yang membuat pendatang merasa memiliki hak tinggal di kawasan konservasi.
Selain penduduk, perkebunan sawit dan keberadaan gajah yang kian tersudut menambah kerumitan situasi. Hambatan komunikasi yang tak selesai membuat masalah terus berulang.
Ekosistem Kian Menyempit: dari 80 Ribu Hektare Tinggal 7.700 Hektare
Herlina menyebut kondisi ekologis TNTN kini “sangat mengkhawatirkan”. Hutan yang dulunya mencapai 80 ribu hektare, kini tinggal sekitar 7.700 hektare.
Pembukaan kebun sawit, pembangunan jalan, dan aktivitas manusia terus menggerus habitat satwa, termasuk gajah yang kini kesulitan bereproduksi dan jumlahnya terus menurun.
WWF yang dulu aktif membina mahout serta pemberdayaan masyarakat sudah tidak lagi bekerja di kawasan itu setelah konflik dengan mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Dampaknya, pawang gajah kehilangan pendampingan dan fasilitas.
Manusia dan Gajah Sama-sama Tidak Punya Tempat Baru
Relokasi masyarakat bukan perkara mudah. Selain persoalan lokasi baru, sebagian pendatang bahkan bukan warga Riau, melainkan dari Sumatera Utara.
“Kalau bicara konservasi, taman nasional harus steril dari sawit dan pemukiman. Tapi realitanya tidak semudah itu,” jelas Herlina.Gajah pun tak bisa dipindahkan, karena TNTN adalah habitat alaminya. Upaya relokasi satwa besar seperti gajah pernah dilakukan pada 1980-an, dan hasilnya menyedihkan.
Kini, jumlah gajah di TNTN makin sedikit, dan ruang untuk berkembang biak hampir tidak ada. Jika pemerintah ingin menyelamatkan gajah, Herlina menyebut langkah paling logis adalah penataan ulang kawasan dan relokasi manusia secara bertahap.
“Kalau gajah selamat, manusia juga akan selamat,” tegasnya.Sumber: Detik












