
REALITANYANEWS, SUMATRA- Pemerintah Indonesia resmi mengaktifkan operasi modifikasi cuaca (TMC) secara intensif untuk menekan tingginya curah hujan di wilayah Sumatra dan Aceh yang dalam sepekan terakhir terdampak banjir parah. Upaya ini dilakukan bersamaan dengan distribusi bantuan logistik skala besar ke daerah-daerah yang masih terisolasi dan memerlukan dukungan darurat.
Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) menegaskan bahwa langkah ini merupakan respons cepat pemerintah terhadap kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi memperburuk banjir.
“Kami melakukan operasi modifikasi cuaca. Kami akan mulai menerbangkan pesawat untuk mengurangi curah hujan di daratan, agar alirannya menuju laut,” ujarnya dalam konferensi pers terbaru.Berdasarkan laporan dari BNPB, beberapa kabupaten di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh Utara mengalami banjir yang merendam ribuan rumah. Sejumlah warga terpaksa mengungsi karena tingginya debit air yang dipicu hujan berturut-turut selama beberapa hari.
Beberapa wilayah bahkan melaporkan akses jalan tertutup lumpur dan material longsor, sehingga pendistribusian bantuan tidak dapat dilakukan lewat jalur darat.
Data resmi menunjukkan bahwa:
- Lebih dari 15 ribu warga terdampak banjir di Aceh Utara.
- Puluhan titik di Sumatra Barat berstatus siaga akibat potensi banjir susulan.
- Sungai-sungai besar di pesisir timur Sumatra mengalami peningkatan debit signifikan.
Situasi ini membuat pemerintah mempercepat upaya pengurangan curah hujan melalui TMC.
Operasi TMC dilakukan dengan penerbangan pesawat khusus yang menaburkan bahan higroskopis untuk memicu hujan turun lebih cepat di wilayah yang jauh dari permukiman, seperti lautan. Dengan begitu, awan hujan tidak menumpuk dan tidak turun di wilayah yang sudah terdampak banjir.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan TNI AU menyiapkan pesawat CN-295 dan Casa 212 untuk operasi tersebut. Titik penyemaian awan dipetakan menggunakan citra satelit dan model cuaca terbaru.
BRIN menyebutkan bahwa operasi ini dilakukan sejak pagi hingga sore setiap hari, menyesuaikan kondisi awan dan arah angin.
“Target kami adalah mengalihkan hujan dari daratan ke wilayah perairan. Ini membutuhkan analisis yang sangat presisi,” ujar salah satu peneliti BRIN.@baronetid74 Sumbar Berduka "cuplikan drone by zikra arrahman" #banjirpadang #creatorsearchinsights #banjirsumbar #padangbanjir #minangstory ♬ suara asli – Ronny Halim
Sementara TMC difokuskan pada pencegahan banjir susulan, pemerintah daerah bersama BNPB dan TNI–Polri mengevakuasi warga dari wilayah yang airnya masih tinggi.
Bantuan logistik yang dikirim meliputi:
- makanan siap saji,
- air bersih,
- selimut, tenda, dan alas tidur,
- obat-obatan,
- perahu karet untuk akses darurat.
Kementerian Sosial juga mengaktifkan Dapur Umum Lapangan (DUL) dan mengerahkan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk membantu warga yang trauma akibat banjir mendadak.
BMKG memperingatkan bahwa pola cuaca basah masih akan berlangsung beberapa hari ke depan akibat pengaruh Madden-Julian Oscillation (MJO) dan aktivitas monsun Asia. Pemerintah meminta warga tetap waspada, khususnya di wilayah hilir sungai yang rawan limpasan air.
“Operasi modifikasi cuaca ini adalah langkah untuk menekan risiko. Tapi kewaspadaan masyarakat tetap menjadi kunci,” ujar Menko PMK.BNPB menargetkan bahwa jika operasi TMC berjalan optimal, penurunan intensitas hujan dapat terlihat dalam 48 hingga 72 jam. Pemerintah berharap kondisi banjir dapat berangsur normal sehingga proses pembersihan, pemulihan jalan, hingga perbaikan fasilitas umum bisa segera dilakukan.
Sumber: CNN Indonesia/Antara












