
REALITANYANEWS, JAKARTA — Jakarta kini disebut sebagai kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam World Urbanization Prospects 2025, populasi kawasan perkotaan Jakarta mencapai sekitar 42 juta jiwa, mengungguli Dhaka, Tokyo hingga Shanghai.
Besarnya populasi tersebut membuat persoalan Jakarta tidak lagi bisa dilihat hanya dari batas administratif ibu kota. Pertumbuhan hunian, aktivitas ekonomi, hingga mobilitas masyarakat telah melebar ke wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor dan Tangerang.
Kawasan tersebut kini menjadi bagian penting dari kehidupan metropolitan Jakarta. Namun, pertumbuhan itu juga membawa persoalan baru karena sebagian besar pusat pekerjaan dan aktivitas ekonomi masih terkonsentrasi di Jakarta.
Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota Indonesia (IAP) Adriadi Dimastanto mengatakan Jakarta telah berkembang sebagai primate city, yakni kota yang memiliki dominasi sangat besar dibandingkan kota-kota di sekitarnya.
“Jadi Jakarta itu dari puluhan tahun ini tumbuh sebagai primate city. Primate city itu istilahnya dia dominan sendiri dibanding yang lain-lain, jadi sangat jauh itu disparitasnya, ketimpangannya antara Jakarta. Enggak usah mikir jauh-jauh deh, Jakarta sama Depok aja,” kata Adriadi kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (25/8/2026).Ia mencontohkan perbedaan kapasitas fiskal antara Jakarta dan Depok. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara pusat metropolitan dan daerah penyangga.
Bekasi dan Depok Menanggung Beban Jakarta
Pertumbuhan Jakarta yang terus melebar membuat kota-kota di sekitarnya ikut berkembang sebagai kawasan hunian.
Banyak masyarakat memilih tinggal di Bekasi, Depok, Bogor maupun Tangerang karena aktivitas pekerjaan mereka berada di Jakarta. Akibatnya, kawasan penyangga harus menampung kebutuhan hunian penduduk yang setiap hari melakukan perjalanan menuju ibu kota.
“Makanya kenapa sekarang Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang enggak karu-karuan tuh karena dia sebetulnya menampung bebannya Jakarta. Orang yang kerja di sini rumahnya di situ,” ujar Dimas.Kondisi tersebut turut memengaruhi pola perkembangan kota. Kawasan permukiman tumbuh semakin luas dan menyebar, sementara masyarakat masih bergantung pada Jakarta untuk bekerja maupun mengakses berbagai layanan.
Akibatnya, perjalanan dari kawasan penyangga menuju Jakarta menjadi bagian dari rutinitas jutaan masyarakat.
Persoalannya pun tidak berhenti pada kemacetan. Ketika pusat pekerjaan tetap terkonsentrasi di Jakarta, pertumbuhan kawasan hunian di sekitarnya justru dapat memperbesar kebutuhan mobilitas harian.
PBB Proyeksikan Penduduk Masih Bertambah
Tekanan tersebut berpotensi semakin besar dalam beberapa dekade mendatang.
PBB memperkirakan populasi kawasan metropolitan Jakarta masih dapat bertambah sekitar 10 juta jiwa dalam 25 tahun ke depan.
Artinya, jika tidak diikuti perubahan struktur kawasan metropolitan, pertumbuhan penduduk berpotensi semakin meningkatkan tekanan terhadap Jakarta sekaligus kota-kota penyangganya.
Karena itu, pembangunan Greater Jakarta perlu dipandang sebagai satu kesatuan kawasan metropolitan, bukan sebagai kota-kota yang berdiri sendiri.
Bekasi-Depok Perlu Jadi Pusat Ekonomi Baru
Menurut Adriadi, kota-kota penyangga perlu memiliki fungsi yang lebih kuat agar tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi pekerja Jakarta.
Bekasi, Depok, Bogor dan Tangerang dinilai perlu dikembangkan sebagai pusat aktivitas ekonomi baru atau second CBD sehingga masyarakat tidak harus selalu menuju Jakarta untuk bekerja maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Jadi kalau Jakarta kita sebut sebagai pusat CBD (Central Business District), kita harus punya second-second CBD. Jadi harusnya Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang itu menjadi second CBD,” katanya.
Pusat-pusat baru tersebut tidak hanya membutuhkan pusat perkantoran. Berbagai layanan seperti rumah sakit, sekolah, pusat rekreasi dan fasilitas perkotaan lainnya juga perlu tersedia secara memadai di kawasan penyangga.
Dengan begitu, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk bekerja, beraktivitas dan memenuhi kebutuhan tanpa harus melakukan perjalanan menuju Jakarta.
Namun, keberadaan fasilitas saja belum cukup.
Menurut Dimas, kawasan penyangga juga membutuhkan lapangan pekerjaan yang kompetitif agar masyarakat benar-benar memiliki alasan untuk tidak bergantung pada Jakarta.
“Jadi kalau kita bisa menciptakan lapangan-lapangan kerja baru di ring luar ini, itu akan membuat warga penduduk itu enggak bergantung lagi ke Jakarta,” ujarnya.Masa Depan Jakarta Adalah Masa Depan Kawasan Metropolitan
Pertumbuhan Jakarta pada akhirnya tidak hanya menentukan masa depan ibu kota, tetapi juga menentukan arah perkembangan kota-kota di sekitarnya.
Bekasi, Depok, Bogor dan Tangerang tidak bisa terus diposisikan hanya sebagai kawasan penyangga atau lokasi hunian bagi pekerja Jakarta. Kota-kota tersebut perlu memiliki pusat ekonomi, lapangan kerja, layanan publik dan fasilitas perkotaan yang mampu berdiri lebih mandiri.
Jika hal itu berhasil dilakukan, arus perjalanan menuju Jakarta dapat ditekan dan pertumbuhan metropolitan menjadi lebih seimbang.
Dengan proyeksi tambahan sekitar 10 juta penduduk dalam 25 tahun mendatang, tantangan terbesar Greater Jakarta bukan sekadar bagaimana menampung lebih banyak penduduk, tetapi bagaimana membangun kawasan metropolitan yang tidak membuat seluruh aktivitas bergantung pada satu kota.
Sumber: CNBC Indonesia
BACA JUGA:
- Anthony Hudson Yakin Thailand Bisa Comeback, Vietnam di Ambang Juara Piala AFF 2026
- Karhutla di Sekitar IKN Meningkat, 470 Kejadian Capai 1.393 Hektare
- Jakarta Jadi Kota Terpadat Dunia, Begini Dampaknya ke Bekasi-Depok
- Riyan Bawa Nama Kalsel ke Liga Myanmar, Jadi Pemain Futsal Pertama dari Banua yang Go International
- Danantara Perkirakan Butuh Rp100 Triliun untuk Benahi BUMN Bermasalah













