Beranda Metropolis Danantara Perkirakan Butuh Rp100 Triliun untuk Benahi BUMN Bermasalah

Danantara Perkirakan Butuh Rp100 Triliun untuk Benahi BUMN Bermasalah

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani (kiri) dan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria saat menyampaikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (24/2/2025). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani (kiri) dan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria saat menyampaikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (24/2/2025). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

REALITANYANEWS, JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memperkirakan masih membutuhkan dana sekitar Rp100 triliun untuk menyelesaikan berbagai persoalan pada sejumlah perusahaan BUMN yang masih mencatat kinerja keuangan negatif.

Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan, kebutuhan tersebut merupakan bagian dari proses pembenahan dan restrukturisasi perusahaan pelat merah yang masih menghadapi persoalan keuangan.

“Kurang lebih ke depannya ini mungkin akan ada lagi sekitar Rp100-an triliun lagi untuk menyelesaikan ini. Harapan saya tentu tidak sampai segitu,” ujar Dony dalam perbincangan dengan CNBC Indonesia, dikutip Senin (24/8/2026).

Menurut Dony, angka tersebut masih berupa perkiraan kebutuhan dalam proses penyelesaian berbagai persoalan yang tersisa. Danantara berharap biaya pembenahan dapat ditekan agar tidak mencapai jumlah tersebut.

Foto: Donny Oskaria. (CNBC Indonesia/Rosseno Aji)
Foto: Donny Oskaria. (CNBC Indonesia/Rosseno Aji)

70 Persen Persoalan Disebut Sudah Diselesaikan

Dony menyebut proses pembenahan terhadap sejumlah BUMN sejauh ini telah mencapai sekitar 70 persen.

Dengan demikian, masih terdapat sekitar 30 persen persoalan yang perlu diselesaikan. Salah satu pekerjaan terbesar yang masih menjadi perhatian adalah perusahaan BUMN di sektor konstruksi atau BUMN karya.

“Yang kita sedang selesaikan itu kan adalah di karya-karya. Saya harapkan ini selesai. The rest relatif kita sudah bisa kita lakukan. Perusahaan kita sudah dalam kondisi yang cukup sehat,” kata Dony.

Ia berharap persoalan di sektor tersebut dapat segera dituntaskan sehingga tidak lagi menjadi beban bagi kinerja perusahaan BUMN secara keseluruhan.

Foto Kantor Danantara
Foto Kantor Danantara

Pos Indonesia Juga Masuk Agenda Transformasi

Selain BUMN karya, sektor logistik menjadi bidang lain yang masih membutuhkan pembenahan.

Dony mengatakan Danantara saat ini tengah melakukan transformasi terhadap PT Pos Indonesia. Pembenahan tersebut menjadi bagian dari agenda restrukturisasi yang sedang dijalankan.

“Harapan saya sih bisa selesai di akhir tahun ini juga,” ujarnya.

Dengan demikian, penyelesaian persoalan di sektor konstruksi dan transformasi Pos Indonesia menjadi bagian dari pekerjaan yang masih harus dikebut Danantara hingga akhir tahun.

Pos Indonesia Juga Masuk Agenda Transformasi
Pos Indonesia Juga Masuk Agenda Transformasi

Dana Pensiun Jadi Pekerjaan Rumah

Selain sektor konstruksi dan logistik, Dony menyebut dana pensiun sebagai persoalan lain yang masih menjadi pekerjaan rumah.

Menurutnya, ketiga sektor tersebut menjadi bagian utama dari persoalan yang saat ini masih perlu mendapatkan perhatian dalam proses pembenahan BUMN.

“Dan yang terakhir adalah dana pensiun kita. Tiga ini yang sebetulnya masih menjadi PR kita,” katanya.

Sementara itu, persoalan pada perusahaan lainnya dinilai memiliki skala yang lebih kecil sehingga proses penyelesaiannya tidak memberikan dampak sebesar tiga sektor tersebut.

“Sisanya itu skalanya kecil-kecil. Lebih baik banyak konsolidasi restrukturisasi yang impact-nya tidak terlalu signifikan lagi,” lanjut Dony.
Ilustrasi. Dana Pensiun Jadi Pekerjaan Rumah
Ilustrasi. Dana Pensiun Jadi Pekerjaan Rumah

Restrukturisasi Berujung Koreksi Keuangan

Dalam proses restrukturisasi, Danantara juga harus mengambil sejumlah langkah terhadap perusahaan yang mengalami kerusakan keuangan cukup parah.

Dony mengatakan langkah seperti impairment, cut loss, dan koreksi lainnya terpaksa dilakukan sebagai bagian dari proses perbaikan.

“Koreksi, impairment, cut loss dan lain sebagainya harus kita terpaksa, harus kita lakukan dalam angka perbaikan ini. Tapi inilah cost yang ke depannya kita tidak mau lagi ini terjadi,” pungkasnya.

Danantara kini berupaya menyelesaikan persoalan yang tersisa agar perusahaan-perusahaan BUMN dapat berada dalam kondisi keuangan yang lebih sehat.

Perkiraan kebutuhan hingga Rp100 triliun tersebut sekaligus menggambarkan besarnya pekerjaan yang masih harus diselesaikan untuk menuntaskan persoalan lama di sejumlah perusahaan pelat merah.

BACA JUGA:

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini