Beranda Olahraga Pendapatan Formula 1 Anjlok 38 Persen, Kalender Balapan Jadi Biang Keladi

Pendapatan Formula 1 Anjlok 38 Persen, Kalender Balapan Jadi Biang Keladi

Pendapatan Formula 1 Anjlok 38 Persen, Kalender Balapan Jadi Biang Keladi
Pendapatan Formula 1 Anjlok 38 Persen, Kalender Balapan Jadi Biang Keladi

REALITANYANEWS, JAKARTA – Formula 1 (F1) menghadapi tekanan finansial sepanjang kuartal kedua 2026. Pendapatan dan laba operasional ajang balap mobil paling bergengsi dunia itu merosot tajam dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal kedua yang dirilis Liberty Media pada Kamis dan dilansir The Race, pendapatan Formula 1 sepanjang April hingga Juni 2026 turun 38 persen menjadi 764 juta dolar AS. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan F1 mencapai 1,22 miliar dolar AS.

Penurunan juga terjadi pada laba operasional. Angkanya merosot 61 persen, dari 293 juta dolar AS pada kuartal kedua 2025 menjadi hanya 73 juta dolar AS pada periode yang sama tahun ini.

Sementara itu, adjusted OIBDA atau Operating Income Before Depreciation and Amortization turun dari 361 juta dolar AS menjadi 139 juta dolar AS.

Pembalap Mercedes asal Italia, Andrea Kimi Antonelli, merayakan keberhasilannya meraih pole position dalam kualifikasi menjelang Grand Prix F1 di sirkuit Spa-Francorchamps di Spa, Belgia, Sabtu, 18 Juli 2026. (AP Photo/Geert Vanden Wijngaert)
Pembalap Mercedes asal Italia, Andrea Kimi Antonelli, merayakan keberhasilannya meraih pole position dalam kualifikasi menjelang Grand Prix F1 di sirkuit Spa-Francorchamps di Spa, Belgia, Sabtu, 18 Juli 2026. (AP Photo/Geert Vanden Wijngaert)

Jumlah Balapan Turun, Pendapatan F1 Ikut Tertekan

Berkurangnya pendapatan Formula 1 tidak terlepas dari jumlah balapan yang lebih sedikit pada kuartal kedua musim 2026.

Sepanjang April hingga Juni tahun lalu, F1 menggelar sembilan seri. Tahun ini, hanya lima balapan yang berlangsung pada periode tersebut.

Sejumlah perubahan kalender menjadi penyebab utama. Grand Prix Jepang dimajukan ke Maret sehingga masuk dalam kuartal pertama. Sementara itu, Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi dibatalkan akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, Imola juga tidak lagi masuk dalam kalender balapan.

Akibatnya, jumlah seri yang digelar pada kuartal kedua 2026 turun sekitar 44 persen. Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung terhadap pendapatan dari aktivitas motorsport yang juga merosot 38 persen.

Jika dihitung sepanjang semester pertama 2026, jumlah balapan yang telah digelar turun dari 11 seri menjadi delapan atau berkurang sekitar 27 persen. Pendapatan aktivitas motorsport pada periode tersebut turun 15 persen.

Pembalap Mercedes asal Inggris, George Russell, mengemudi selama sesi kualifikasi untuk balapan sprint di ajang balap mobil F1 Grand Prix Kanada di Montreal, Jumat, 22 Mei 2026. (Jacques Boissinot/The Canadian Press via AP)
Pembalap Mercedes asal Inggris, George Russell, mengemudi selama sesi kualifikasi untuk balapan sprint di ajang balap mobil F1 Grand Prix Kanada di Montreal, Jumat, 22 Mei 2026. (Jacques Boissinot/The Canadian Press via AP)

F1 Optimistis Kondisi Keuangan Membaik

Meski mengalami tekanan pada paruh pertama musim, Formula 1 masih optimistis kondisi keuangan akan membaik pada paruh kedua 2026.

Kalender pada kuartal ketiga dijadwalkan memiliki tujuh balapan, termasuk Grand Prix Spanyol di Madrid. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan enam seri yang digelar pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, jika Grand Prix Qatar dan Abu Dhabi tetap berlangsung sesuai rencana, kuartal terakhir musim 2026 akan diisi delapan balapan. Jumlah itu meningkat dibandingkan tujuh seri pada periode yang sama musim lalu.

Namun, apabila dua balapan tersebut kembali mengalami pembatalan, CEO Formula 1 Stefano Domenicali menyebut musim 2026 berpotensi ditutup di Eropa.

Dalam skenario tersebut, Imola menjadi salah satu kandidat lokasi balapan penutup pada Desember 2026.

Formula 1 tetap memperkirakan total balapan musim 2026 berada di kisaran 22 hingga 23 seri, sehingga dampak finansial akibat berkurangnya sejumlah balapan di Timur Tengah dapat ditekan.

Stefano Domenicali, CEO Formula 1, bereaksi dalam resepsi perayaan 75 tahun Formula 1 di 10 Downing Street, London pusat, pada 2 Juli 2025. (Jaimi Joy/POOL/AFP)
Stefano Domenicali, CEO Formula 1, bereaksi dalam resepsi perayaan 75 tahun Formula 1 di 10 Downing Street, London pusat, pada 2 Juli 2025. (Jaimi Joy/POOL/AFP)

Pembayaran untuk Tim Juga Ikut Menurun

Berkurangnya jumlah balapan juga berdampak pada dana yang dibagikan kepada tim-tim peserta Formula 1.

Liberty Media mencatat total pembayaran kepada seluruh tim pada kuartal kedua 2026 mencapai 316 juta dolar AS. Angka tersebut turun cukup signifikan dibandingkan 513 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam enam bulan pertama 2026, total dana yang diterima seluruh tim mencapai 500 juta dolar AS. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan 627 juta dolar AS pada semester pertama 2025.

Kondisi ini menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas balapan tidak hanya berdampak pada pendapatan Formula 1, tetapi juga ikut memengaruhi distribusi pendapatan kepada tim.

Pembalap Red Bull Racing, Max Verstappen melintasi garis finis dalam ajang balap Formula 1 GP Qatar 2025 di Sirkuit Lusail, Lusail, Qatar, Minggu (30/11/2025) waktu setempat. (AFP/Andrej Isakovic)
Pembalap Red Bull Racing, Max Verstappen melintasi garis finis dalam ajang balap Formula 1 GP Qatar 2025 di Sirkuit Lusail, Lusail, Qatar, Minggu (30/11/2025) waktu setempat. (AFP/Andrej Isakovic)

Formula 1 Tambah Balapan Sprint Mulai 2027

Untuk meningkatkan pemasukan, Formula 1 menyiapkan sejumlah strategi baru. Salah satunya adalah menambah jumlah balapan sprint mulai musim 2027.

Domenicali mengatakan penambahan jumlah grand prix bukan opsi utama karena kalender F1 sudah penuh hingga 2028. Sebagai gantinya, format sprint dinilai memiliki potensi komersial yang besar.

Promotor disebut bersedia membayar lebih untuk menggelar sprint karena format tersebut mampu meningkatkan jumlah penonton, terutama pada Jumat dan Sabtu.

"Kami akan memiliki lebih banyak balapan sprint tahun depan. Saat kalender 2027 diumumkan nanti, kami akan memberi tahu berapa jumlahnya," ujar Domenicali, dikutip dari The Race.

Menurutnya, sprint memiliki peluang untuk menjadi sumber pemasukan tambahan yang bisa dimaksimalkan secara komersial.

Meski demikian, F1 tidak berencana menerapkan sprint di seluruh seri. Domenicali menilai unsur eksklusivitas tetap penting agar nilai komersial format tersebut tidak menurun.

Ilustrasi F1, Formula 1. (Bola.com/AI)
Ilustrasi F1, Formula 1. (Bola.com/AI)

Bidik Pasar Premium dan Hospitality

Selain sprint, Formula 1 juga membidik peningkatan pendapatan dari sektor layanan premium di setiap balapan.

Seluruh paket hospitality Paddock Club untuk musim 2026 dilaporkan telah terjual habis. Bahkan, alokasi paket untuk tim pada 2027 juga telah dipastikan.

F1 kini mencari bentuk pengalaman premium baru di luar layanan tersebut.

Salah satu yang mulai dikembangkan adalah Outlap, pengalaman makan malam mewah hasil kolaborasi dengan LVMH. Program tersebut memberikan kesempatan kepada 12 tamu menikmati jamuan makan di dalam kontainer khusus yang dibawa mengelilingi lintasan.

Outlap pertama kali diperkenalkan pada Grand Prix Belgia dan direncanakan diperluas ke sejumlah seri Eropa musim depan.

Harga pengalaman tersebut juga tidak murah, yakni lebih dari 10.000 euro per orang.

Formula 1 juga masih melihat peluang pertumbuhan melalui kerja sama lisensi baru serta perpanjangan sejumlah kontrak komersial yang telah berjalan.

Dengan demikian, meski pendapatan F1 tertekan pada paruh pertama 2026 akibat berkurangnya jumlah balapan, Formula 1 mulai menyiapkan strategi baru untuk mengerek pemasukan—mulai dari sprint, hospitality premium, hingga pengalaman eksklusif bernilai tinggi.

Sumber: The Race

BACA JUGA:

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini