REALITANYANEWS, JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik memasuki babak baru. Sebanyak delapan negara NATO mengirimkan pasukan militer ke Greenland, menyusul pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali menegaskan niatnya untuk mengakuisisi pulau terbesar di dunia tersebut.
Delapan negara yang terlibat yakni Denmark, Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, dan Inggris. Pengerahan ini disebut sebagai bentuk dukungan terhadap Denmark sekaligus sinyal solidaritas NATO di tengah meningkatnya ketegangan internal aliansi.
Pengerahan Pasukan NATO ke Greenland
Laporan terbaru mengonfirmasi bahwa sejumlah personel militer dari negara-negara Eropa telah tiba di Bandara Nuuk, Greenland, pada Rabu (14/1/2026) malam. Pesawat Angkatan Udara Kerajaan Denmark menjadi yang pertama mendarat dengan membawa pasukan pendukung.
Negara-negara NATO lainnya mengirim personel dalam skala terbatas, mulai dari perwira penghubung hingga tim pengintaian. Prancis menamai misinya sebagai Operation Arctic Endurance, yang berfokus pada latihan, pengintaian, dan pengujian kemampuan militer di lingkungan ekstrem Arktik.

Respons Gedung Putih: Trump Tetap Tak Gentar
Meski langkah NATO menuai sorotan global, Gedung Putih menegaskan bahwa pengerahan pasukan tersebut tidak memengaruhi sikap Presiden Donald Trump.
Juru bicara Gedung Putih menyatakan Trump tetap berpegang pada pandangannya bahwa Greenland memiliki nilai strategis krusial bagi keamanan nasional Amerika Serikat, bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Pernyataan ini memicu kekhawatiran luas, mengingat Greenland merupakan wilayah otonom Denmark—negara anggota NATO.
Tujuan Operasi: Bukan Perang Terbuka
Meski narasinya keras, para pejabat Eropa menegaskan bahwa pengerahan pasukan NATO ke Greenland bukan untuk berperang melawan Amerika Serikat.
Langkah ini disebut sebagai:
- Upaya defensif
- Penegasan kedaulatan Denmark
- Perlindungan kawasan strategis Arktik
- Penunjukan solidaritas NATO
Secara teknis, ini adalah manuver militer-politik yang sarat pesan simbolik, bukan eskalasi konflik bersenjata.

Sikap Denmark dan Greenland
Pemerintah Denmark menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual. Perdana Menteri Denmark menyebut pertahanan Greenland sebagai “kepedulian bersama seluruh NATO”.
Sementara itu, pejabat Greenland menyatakan adanya ketidaksepakatan mendasar dengan Amerika Serikat terkait masa depan pulau tersebut. Denmark bahkan memperingatkan bahwa serangan terhadap Greenland dapat mengguncang fondasi NATO.
Dampak terhadap NATO dan Geopolitik Global
Ancaman Trump dinilai sebagai preseden berbahaya. NATO, yang selama ini berpegang pada prinsip bahwa serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua, kini menghadapi krisis kepercayaan internal.
Meski NATO dan AS telah lama melakukan latihan militer di Arktik—termasuk keberadaan sekitar 150 personel AS di Pangkalan Pituffik—pengiriman pasukan Eropa kali ini memiliki makna politik yang jauh lebih besar.
Greenland pun berubah dari wilayah es terpencil menjadi episentrum ketegangan geopolitik global.
Sumber: CNN
- Geger! CAF Cabut Gelar Juara Senegal, Maroko Resmi Dinobatkan Sebagai Raja Afrika 2025
- Libur Lebaran 2026, Program Makan Bergizi Gratis Rehat Sejenak: Anggaran Negara Hemat Rp5 Triliun!
- Pererat Silaturahmi, Saut Nathan Samosir Undang 800 Warga Banjarmasin Buka Puasa Bersama dan Berbagi Keberkahan
- Hiswana Migas Kalsel Gelar Buka Puasa Bersama, Pastikan Stok BBM Aman dan Mencukupi Jelang Arus Mudik 2026
- Dilan Kembali dengan Versi Dewasa! Ariel Noah dan Raline Shah Pemeran Sekuel Film ‘Dilan ITB 1997’













