Beranda Metropolis Siswa SMP di Surabaya Olah 3,12 Ton Kulit Bawang Putih Jadi Tinta...

Siswa SMP di Surabaya Olah 3,12 Ton Kulit Bawang Putih Jadi Tinta Spidol Ramah Lingkungan

Ilustrasi -@cretivox-Instagram
Ilustrasi -@cretivox-Instagram

REALITANYANEWS, SURABAYA – Inovasi hijau kembali datang dari dunia pendidikan. Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMPN 57 Surabaya, berhasil mengolah 3,12 ton kulit bawang putih menjadi tinta spidol ramah lingkungan. Ia menggandeng 25 mitra dari pasar dan kampung sekitar kota untuk mengumpulkan limbah organik yang selama ini hanya berakhir di tempat sampah.

Gagasan ini berawal dari keprihatinan Raihan melihat tumpukan kulit bawang putih yang terbuang sia-sia di pasar tradisional. Dengan dukungan para pedagang dan warga, kulit bawang tersebut dikumpulkan secara rutin sebagai bahan baku utama proyek inovasinya.

Dalam proses produksinya, kulit bawang putih dikeringkan dan disangrai hingga menghasilkan pigmen hitam alami. Pigmen tersebut kemudian dicampur dengan bahan pengikat agar dapat digunakan sebagai tinta spidol. Raihan menjelaskan, tidak semua kulit bawang putih layak diolah. Kulit yang terlalu lembap atau sudah lama disimpan justru dialihkan menjadi produk lain, seperti eco-enzyme.

Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menawarkan alternatif tinta yang lebih ramah lingkungan dibandingkan tinta spidol komersial yang umumnya mengandung bahan kimia. Upayanya pun membuahkan prestasi Raihan berhasil meraih Juara 2 Pangeran Lingkungan Hidup 2024.

Perjalanan Raihan tidak selalu mulus. Pada empat bulan pertama, ia hanya mampu mengumpulkan sekitar 300 kilogram kulit bawang putih. Namun berkat kegigihan dan dukungan para mitra, jumlah itu terus meningkat hingga mencapai 3,12 ton.

Tak berhenti pada tinta spidol, Raihan mulai mengembangkan produk turunan lainnya, seperti eco-enzyme dan sabun cair ramah lingkungan. Ia bahkan menargetkan produksi toner fotokopi berbahan kulit bawang putih sebagai inovasi lanjutan.

Saat ini, tinta spidol buatan Raihan sudah mulai dipasarkan, meski ia mengakui kualitas produk masih perlu penyempurnaan agar lebih stabil dan tahan lama. Meski begitu, langkahnya menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda mampu memberi dampak besar terhadap pengelolaan limbah dan keberlanjutan lingkungan.

Dengan ide sederhana namun visioner, Raihan menunjukkan bahwa limbah organik bisa menjadi aset bernilai bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masa depan industri ramah lingkungan.

Sumber: radartv

Google search engine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini