
REALITANYANEWS, JAKARTA — Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem industri emas dari hulu hingga hilir. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat sumber daya bijih emas Indonesia mencapai 17,24 miliar ton, dengan cadangan bijih emas primer sekitar 3,46 miliar ton.
Potensi tersebut dinilai dapat diperkuat melalui pengembangan ekosistem bullion, termasuk bullion bank, yang didorong sejalan dengan agenda hilirisasi komoditas emas di dalam negeri.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, mengatakan produksi emas nasional salah satunya berasal dari perusahaan yang berada dalam ekosistem pertambangan nasional, seperti PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Freeport Indonesia (PTFI).
Menurut Elen, emas yang dihasilkan dari proses pengolahan mineral dapat terus dimanfaatkan dalam ekosistem yang lebih luas, termasuk masuk ke dalam sistem bullion.
"Freeport misalnya, dari copper tembaga, kemudian bisa diutilisasi sampai emas, kemudian bisa lagi dimanfaatkan oleh sebagainya. Bahkan emas ini, kemudian dimasukkan ke dalam sistem bullion," terang Elen dalam acara Mindialogue 2026, Kamis (13/8/2026).Ia menjelaskan, pengembangan sistem bullion bank diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara sektor hulu, pengolahan, hingga pemanfaatan emas di dalam negeri.
"Nah dalam sistem bullion bank inilah yang ekosistem itu secara bertahap bisa mendorong, bagaimana kita bisa melakukan kecepatan hilirisasi," jelasnya.Produksi Emas Nasional Puluhan Ton per Tahun
Dalam paparannya, Elen menyebut produksi emas Indonesia berada di kisaran 53,5 ton hingga 86,2 ton per tahun.
Sejumlah perusahaan tambang berkontribusi terhadap produksi tersebut. Antam mencatat produksi sekitar 0,7-1 ton dengan kapasitas refinery mencapai 150 ton.
Sementara itu, produksi emas Freeport Indonesia mencapai sekitar 33 ton dengan kapasitas penuh hingga 50 ton. Amman Mineral menghasilkan sekitar 16-18 ton emas per tahun.
Adapun J Resources mencatat produksi sekitar 2,4-2,7 ton, Merdeka Copper Gold sekitar 2,9 ton, Archi Indonesia sekitar 2,6 ton, PT Agincourt Resources sekitar 5,9-6,8 ton, dan BRMS sekitar 2,2 ton.
Di sisi lain, kebutuhan emas di Indonesia diperkirakan mencapai 190-200 ton per tahun.
Kebutuhan tersebut berasal dari berbagai sektor, antara lain industri perhiasan sekitar 30 ton per tahun, masyarakat melalui Pegadaian dan BSI sekitar 60-70 ton, pedagang emas digital sekitar 60 ton, serta kebutuhan emas batangan Antam sekitar 40 ton per tahun.
Cadangan Emas Bank Indonesia
Potensi ekosistem emas nasional juga berkaitan dengan cadangan emas yang dimiliki bank sentral.
Berdasarkan data World Gold Council (WGC) yang dipaparkan dalam acara tersebut, cadangan emas Indonesia tercatat sekitar 78,6 ton dan berada di peringkat ke-40 dunia berdasarkan data 2020.
Elen memperkirakan nilai kapital emas Indonesia berpotensi mencapai sekitar Rp1.800 triliun apabila turut memperhitungkan penguatan cadangan devisa emas di Bank Indonesia.
Menurutnya, pengembangan ekosistem emas yang terintegrasi dapat mempertemukan berbagai unsur, mulai dari sektor hulu, industri pengolahan, pasar, masyarakat, hingga bank sentral.
"Nah ini yang kita harapkan ke depan, ekosistem yang terbentuk, hulu, tengah, hilirnya itu bisa berjalan beriringan dengan pengembangan-pengembangan," tegas Elen.Ia berharap pengelolaan sumber daya emas, baik yang berasal dari sektor formal maupun aktivitas yang selama ini belum tertata, dapat semakin terintegrasi sehingga memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional.
Emas Tak Hanya untuk Perhiasan dan Investasi
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM, Heldy Satrya Putera, mengatakan emas merupakan salah satu komoditas prioritas yang perlu dikembangkan ekosistem hilirisasinya.
Menurutnya, pemanfaatan emas di Indonesia selama ini masih didominasi kebutuhan perhiasan dan investasi.
"Emas ini juga merupakan salah satu komoditas yang kita dorong hilirisasi. Kenapa? Jadi saat ini kita banyak sebetulnya menggunakan atau memanfaatkan emas, mengolah emas itu baru untuk satu, perhiasan. Yang kedua kita mengolahnya hanya untuk kebutuhan investasi karena kita mau simpan emasnya," kata Heldy dalam acara Mindialogue 2026 di Jakarta, dikutip Kamis (13/8/2026).Padahal, emas juga memiliki fungsi dalam industri teknologi modern. Salah satunya sebagai material pendukung dalam industri elektronik dan produksi semikonduktor.
"Nah sebetulnya emas ini dibutuhkan juga untuk industri elektronik. Gitu. Untuk pembuatan produk-produk ya seperti semikonduktor itu juga butuh walaupun tidak besar jumlahnya mungkin dibandingkan dengan bahan baku yang lainnya," ujarnya.Pemerintah Dorong Bahan Baku Tersedia di Dalam Negeri
Heldy mengatakan pemerintah ingin memastikan bahan baku yang dibutuhkan dalam proses hilirisasi dapat tersedia di dalam negeri.
Ketersediaan bahan baku tersebut dinilai penting untuk memberikan kepastian kepada investor yang ingin membangun fasilitas manufaktur di Indonesia.
"Kita usahakan kalau bisa memang seluruh bahan bakunya itu tersedia di Indonesia. Ini untuk memberikan keyakinan lagi, kepastian lagi kepada para investor bahwa apabila Anda membangun industri ini maka kebutuhan-kebutuhan bahan bakunya itu dapat kami pastikan akan tersedia," tandasnya.Dengan sumber daya emas yang besar, produksi nasional yang mencapai puluhan ton per tahun, serta kebutuhan domestik yang tinggi, pengembangan ekosistem emas dinilai memiliki ruang yang luas untuk diperkuat.
Pemerintah kini mendorong agar potensi tersebut tidak berhenti pada aktivitas pertambangan dan pemurnian, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri yang mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Sumber: CNBC Indonesia
BACA JUGA:
- Festival Balon Udara Wonosobo Disorot, Disebut Bawa Nama Program Pemerintahan Prabowo
- Dana White Tak Sabar Saksikan Debut Bilal Hasan di UFC: Selamat Datang!
- Besok Prabowo Sampaikan Nota Keuangan dan RAPBN 2027, Ini Gambaran Awalnya
- Potensi Besar Ekosistem Emas Indonesia: Sumber Daya Capai 17,24 Miliar Ton
- Banjarmasin Raih Dua Penghargaan pada Puncak Hari Jadi ke-76 Kalsel












